07 November, 2008

Obama Menang, Kita Tunggu Indonesia Baru


RATU talkshow Oprah Winfrey, aktor Brad Pitt, dan politisi Jesse Jackson ada di antara sekitar 240.000 orang yang melepaskan sukaria mereka merayakan kemenangan Barack Obama dalam pemilihan presiden AS.
Pesta perayaan terpilihnya presiden AS ke-44 di Chicago’s Grant Park itu hanyalah salah satu potret kegembiraan merayakan lahirnya sejarah baru, di mana rakyat AS berani mengatakan dan melakukan apa yang seharusnya dikatakan dan dilakukan.

Mereka yang memilih Obama sebagai presiden juga memilih untuk melawan ketakutan. Suara mereka adalah suara menentang, meminjam istilah Jerry Lanson di The Christian Science Monitor (6/11), perlawanan terhadap ”ekonomi tetesan ke bawah” yang ”tidak netes”. Suara mendukung Obama juga berarti menentang dua perang yang melibatkan (atau malah diprakarsai oleh AS), yakni di Afganistan dan Irak, yang belum berakhir.

Yang lebih penting lagi, memilih Obama sama saja menentang Presiden Bush dan partainya, Partai Republik!

Sekadar sebagai gambaran, siapa saja yang memilih Obama. Jumlah pemilih sekitar 136 juta orang (penduduk AS, 305 juta jiwa). Obama meraih (hitungan sampai kemarin) 63 juta suara (McCain, 55,8 juta); Obama didukung oleh 56 persen perempuan AS (McCain, 43 persen); pemilih berusia di bawah 30 tahun, 66 persen dukung Obama (32 persen dukung McCain); sebanyak 95 persen Afrika-Amerika dukung Obama (McCain, 4 persen); 66 persen Hispanik dukung Obama (32 persen McCain); dan 68 persen pemilih pemula pilih Obama (31 persen McCain).

Angka-angka itu sarat makna. Rakyat AS menginginkan perubahan. Mereka melihat ”perubahan” itu Obama.

Kaum muda sangat berharap pada Obama yang selalu berteriak, ”Yes we can!” Mereka melihat seperti melihat masa depan. Obama memang menjadi harapan rakyat AS, bahkan rakyat di banyak negara berharap banyak padanya. Di berbagai belahan bumi, terdengar teriakan sukacita dengan terpilihnya Obama dan terdengar pula bisik harapan.

Pesta kini sudah usai. Apakah ia mampu menyelesaikan perang di Afganistan dan di Irak yang menurut catatan Joseph E Stiglitz dan Linda J Bilmes (The Three Trillion Dollar War) sebagai kesalahan—ketololan—yang mengerikan? Perang ini pula yang, antara lain, memberi sumbangan melemahnya perekonomian AS. Tugas Obama belum selesai. ”Yes we can!” teriak Obama yang diikuti massa, bisa menjadi semacam mantra yang akan melahirkan Amerika wajah baru.

Kita dari jauh hanya bisa berharap bahwa angin perubahan, semangat perubahan, semangat persatuan ”satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa” yang justru berkumandang dan diwujudkan di AS akan memberi semangat pada kita untuk bangkit, bersama-sama membangun masa depan.

Begitu banyak persoalan di negeri ini yang terlupakan, dari soal kriminal yang menjadi-jadi sampai soal toleransi yang mudah terkoyak; dari soal kebinekaan yang makin cair sampai soal pengangguran yang menggelembung; dari soal pendidikan yang mahal sampai soal korupsi yang mati satu tumbuh seribu; dari soal Jawa luar Jawa sampai laki-laki dan perempuan.

Ketika semua orang mengarahkan usahanya untuk memperebutkan kekuasaan—legislatif dan eksekutif—ada yang masih berharap agar mereka yang memburu kekuasaan itu dapat bertindak cerdik dengan memerhatikan kepentingan hidup bersama dan demikian membatasi dirinya.

Dengan demikian, kita pun nantinya bisa bersukaria seperti Oprah Winfrey, Brad Pitt, dan Jesse Jackson menyambut era baru, yakni lahirnya Indonesia baru!
(ias)

Tidak ada komentar: